Kamis, 10 Maret 2011

Sepenggal Kisah Masa Lalu




Aku berjalan pulang, kembali kekampung halamanku, ada sepenggal kerinduan di hati ini, untuk seseorang, yang telah lama ku tinggal pergi. Dan langkahku pun terhenti di depan rumah berpagar putih terlihat kosong…
Ada kenangan di sana..
“Terima kasih kak sudah membatuku” kata lembut yang tulus keluar dari bibir mungil gadis itu, karena baru saja aku membantunya dari beberapa anak-anak nakal yang usil menganggunya.
“Lainkali hati-hati kalo jalan jangan sendiri” kataku. Sambil menawarkan bantuan untuk membawakan buku yang ada ditangannya.
“tidak , terima kasih kakak” katanya terlihat tidak ingin merepotkanku..
“tidak apa-apa kok” balasku sambil mengambil buku yang ada di tangannya.
Aku berjalan mendahuluinya sebelum dia sempat protes, dan akhirnya dia hanya ikut mengiringi langkahku siang itu. Sepanjang perjalanan dia hanya diam dan sekali-sekali terlihat khawatir di raut wajahnya, dia sangat manis pikirku..wajarlah kalau dia di goda sama anak-anak begal tadi.
Oh ya kita belum berkenalan, kataku memecah kebisuan kami…
“namaku lily kak” kalau kakak siapa?
“aku erwin, kamu sudah lama tinggal disini?”
“tidak kak, aku baru pindah seminggu yang lalu”
“Oohh, pantesan aku baru melihatmu, lainkali hati-hati kalau jalan sendirian, di daerah sini banyak premannya”
“iya kak, maklumlah aku baru tinggal disini, jadi belum tau betul lingkungan disini”
“kalo boleh nih kakak siap mengantar kamu kemanapun yang kamu inginkan” candaku.
Dia hanya membalasnya dengan senyuman manis.
Begitulah awal perkenalanku dengan lily si gadis keturunan tionghoa, dan sejak itu kami semakin akrab.dari hanya sekedar berhabat hingga menjadi sepasang kekasih. Lily selalu mengisi hari-hariku, lily yang selalu ceria bercerita tentang apa saja. senyum manisnya selalu membuatku merindukannya. aku sangat menyayanginya, aku ingin selalu bersamanya, namun hubunganku dan lily di tentang oleh orang tuaku sendiri, dengan alasan beda suku. Sampai-sampai ayah memutuskan agar aku melanjutkan studyku di luar negri.
“kita pergi saja ly, aku akan menikahimu meskipun tanpa restu dari orang tuaku, kita akan hidup bahagia dengan cinta kita”.
“itu bukan langkah yang tepat kak, sebaliknya itu malah membuat orang tua kakak semakin benci sama lily”.
“lily, aku ingin selalu bersamamu”.
“tapi aku sangat mencintaimu lily, aku tak bisa membayangakan hari-hariku tanpamu”.
“lily juga mencintai kakak, Tapi lily juga tidak ingin kakak menjadi anak yang durhaka kepada orang tua kakak, sebaiknya kakak mendengarkan orang tua kakak, jangan menentang, sebab mungkin semua itu demi kebaikan kakak” katanya yang bagiku sok menasehatiku, dengan seyuman yang seolah-olah ikhlas.
“baiklah jika itu mau kamu, aku akan pergi!!” ucapku dengan marah.
Aku sangat marah saat itu, aku berfikir lily tidak mencintaiku lagi, karna menolak saat kuajak menikah tanpa restu orang tuaku, hingga akhirnya aku pergi mengambil study keluar negri sesuai keinginan ayahku. Itulah saat-saat terakhir aku bertemu dengannya.
***
Tahun-tahunpun berlalu, dan kini aku kembali, ada sedikit kebahagiaan ketika aku mulai berjalan pulang, rasa rindu pada sosok mungil lily, senyum cerianya, dan sekelumit rasa ingin tahu apakah dia juga merindukanku?. Terhenti langkahku depan rumah lily, rumah berpagar putih itu terlihat kosong.
“Ada apa ya nak?” Tiba2 seorang ibu menyapaku, mugkin si ibu menangkap kebingunganku yg sedari tadi sibuk mondar mandir di depan rumah lily.
“iya bu, saya mau tanya bu, kemana perginya orang-orang yang tinggal di rumah ini?”
“ibu juga tidak tau, mereka sudah lama tidak tinggal disini nak” sejak kerusuhan dua tahun lalu, mereka semua pergi meninggalkan rumah ini.
“kerusuhan? “Tanyaku setengah kaget, apa yang terjadi? Batinku bertanya-tanya.
Dan akhirnya si ibu pun menceritakan semuanya padaku. Kerusuhan akibat gejolak ekonomi telah mebuat lily dan keluarganya menjadi korban amuk massa, lily yang malang harus berujung di RS sakit jiwa akibat tekanan trauma saat kerusuhan, sang ayah tewas di ruko tempat dagangannya sehari-hari yang di bakar massa, sementara ibunya bunuh diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar