Lelaki tua itu terlihat sedih menatap pantai, entah sudah berapa senja yang dia habiskan hanya untuk duduk memandang matahari terbenam di pantai itu. Setiap sore tepatnya jam lima dia sudah berada di tempat itu, berdiri menghadap pantai, rambutnya yang putih dan topi baretnya menjadi ciri khas dirinya.
Dia adalah baba Hong, istrinya telah meninggal 5 tahun lalu, karena penyakit tumor. Istri yang sangat dikasihinya yang semasa hidupnya, yang selalu menemaninya tiap senja menunggu matahari terbenam di tepi pantai. Tujuh puluh dua tahun silam tepatnya tanggal tujuh october, dia melamar yohana, wanita cantik yang amat di cintainya. Wanita yang selalu mendampinginya dengan setia sampai pada masa tuanya.
Pernikahan yang tidak memperoleh restu, karena Yohana berasal dari keluarga yang mampu, sementara dia hanya seorang kuli bangunan yang kerjanya tidak menentu. Namun itu bukan sebuah penghalang bagi kesucian cinta mereka. Yohana sang pujaan hati rela meninggalkan kemewahan hanya untuk hidup bersama baba Hong.
“Yohana apakah kamu bersedia menerima Tan Hong Lung untuk menjadi suamimu, baik dalam suka maupun duka?”
“ya saya bersedia menerima Tan Hong Lung menjadi suami saya, baik dalam suka maupun duka”
“Tan Hong Lung, apakah kamu bersedia menerima Yohana Lestari sebagai istrimu, dan bersedia menjaganya, baik dalam suka maupun duka?
“ya, saya bersedia menerima Yohana Lestari sebagai istri saya, dan bersedia menjaganya baik dalam suka maupun duka.
Ikrar janji setia yang sakral diucapkan dalam pemberkatan pernikahan mereka.
“demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu, karena itu, apa yang telah di persatukan Allah, tidak boleh di ceraikan manusia” Kutipan ayat dari injil matius yang diucapkan oleh Romo Glesius meresmikan keduanya menjadi sepasang suami istri.
Tahun berganti tahun mereka lalui, sampai anak-anak buah cinta kasih merekapun lahir, hidup dalam pasang surutnya dunia tak membuat baba hong berputus asa, dia juga dikenal sering membantu orang-orang yang susah disekelilingnya, keterbatasannya tak menyurutkan semangatnya untuk membantu orang-orang yang tidak mampu, pahit getirnya hidup menjadi makanannya sehari-hari.
“Maafkan aku tak pernah mampu membuatmu bahagia sayangku” ucap baba Ong di suatu Senja kepada sang istri.
“Jangan pernah meminta maaf suamiku karna memang kau tak punya salah padaku, bagiku bahagia bukanlah diukur dari materi semata, bukan uang sayangku, namun dari seberapa besar perjuanganmu untuk melakukan segalanya demi kebahagiaanku, aku sudah merasa sangat bahagia saat kau selalu meluangkan waktumu untuk menemaniku menikmati senja, memandang matahari perlahan terbenam, dan kita bercengkrama mesra. Itulah masa-masa indah dengan sang istri, sebelum akhirnya sang istri dipanggil untuk menghadap Sang Pencipta.
****
Senja ini adalah senja terakhir dia terlihat di tepi pantai itu, ada kesedihan yang teramat dalam diraut wajahnya, ada linangan airmata dipipinya, sambil memandangi matahari yang turun ke peraduannya. Warna langit lembayung, memancarkan sisi romantis dari sang alam, ada perasaan damai, ditemani suara ombak yang menghempas, bergulung-gulung dan saling berkejaran menuju tepi pantai. Sayang senja ini aku tak ditemani lagi olehmu, dewiku, aku sepi tanpamu. Dulu disini, di tempat ini kita bertemu, dan berkenalan. Dulu di sini, di tempat ini, aku pertama kali meminangmu dewiku. Hari- hari terasa semakin berat tanpa hadirmu, ingin aku segera menyusulmu, dan kita kembali bersatu dalam indahnya nirwana Cinta, seindah senja yang syahdu.
Senja dan Kerinduan
Kerinduan akan kehadiranmu
Kehadiranmu yang selalu menemaniku
Disini, dulu…..
Ada kisah yang teramat indah
Disini, dulu……
Ada cinta yang teramat suci
Disini, dulu
Ada rindu yang selalu abadi
Disini, dulu
Ada Kau dan Aku……
by : Youly Chang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar