Lily
Andaikan benda terkutuk dalam genggamanku ini tak pernah meracuni dirimu sayang… Pertengkaran semalam yang menghadirkan jarak antara kita, terpisah oleh dinding tebal kebisuan, tentulah tak terjadi.
Bukan, sayang….
Aku tak ingin kau marah padaku, melampiaskan nafsu amarahmu, menyakiti diriku, hingga menyisakan goresan merah darah disekujur tangan dan wajahku. Namun karena cintaku, barang laknat ini tak ku serahkan.
Begitu sulitkah untukmu meninggalkan bubuk haram ini?
Berulang kali aku mendapatkanmu menyimpan serbuk setan ini. Sesering itu pula pertengkaran diantara kita terjadi. Jeritan dan tangis-ku beradu padan dengan teriakan amarahmu. Tangan kokoh-mu yang biasanya merangkulku mesra, menjelma menjadi siksaan yang tak terperikan.
Sungguhkah dirimu tak lagi mencintai-ku?
Tidak, aku tahu dalamnya cintamu padaku. Saat kesadaran merasuki dirimu sepenuhnya, tutur kata mu yang lembut, tulus penuh penyesalan. Akupun kembali hanyut dalam pelukan hangatmu.
Dalam buaian kasih sayang kita berdua, kau selalu mendaratkan kecupan tanda cinta dikening-ku. Dengan pandangan yang berkaca-kaca, kembali kau ikrarkan betapa besarnya rasa cintamu. Aku percaya itu sayangku…. karena sebesar itulah cintaku padamu.
Lantas, mengapa selalu hal yang sama terulang kembali?
Lagi-lagi aku duduk termenung dilantai, tubuhku bersandar di tepian ranjang, kedua mataku sembab, tubuh dan wajahku dipenuhi rona biru. Disela-sela lirih isak tangisku, tak ku acuhkan suara-suara benturan dari balik pintu kamar.
Ku takkan lelah meninggalkan mu
ku takkan letih melupakanmu
selamanya jiwamu kan slalu abadi
yang sinari hati ini dalam relung kalbuku
Bersemayam bersama akhir nafasku
Tersenyumlah saat kau mengingatku
karna saat itu aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku
Karna saat itu aku tak berada di sampingmu
Tetapi pejamkanlah mata indahmu itu karna saat itu aku akan trasa ada di dekatmu
karna aku tlah berada di hatimu untuk selamanya
Edward
Sayang….
Jangan kau hukum diriku dalam kebisuan yang menyiksaku ini. Aku hanya laki-laki bodoh yang terbelenggu kesesatan.
Dibalik setiap pertengkaran kita, dahaga yang timbul dari bisikkan serbuk jahanam itulah penyebabnya. Tak kan mungkin aku sengaja menyakitimu dalam sadarku.
Tentu kau tahu besarnya rasa cintaku padamu khan sayangku?
Begitupula aku tahu besarnya rasa cintamu padaku. Kau tetap teguh dalam upayamu melepaskanku dari belenggu sesat ini. Tak sekalipun kau pergi meninggalkanku, meski diriku selalu mendera-mu dengan siksaan.
Lantas, mengapa kebisuan ini yang harus kau pilih?
Mengapa kau gunakan bubuk setan itu untuk menghukum ku?!!
Edward tersungkur dan mendekap erat tubuh Lily yang terkulai lemah tak bernyawa. Di bibir Lily, tampak sisa-sisa serbuk setan yang telah lenyap dari genggamannya. Pekik tangis Edward memecah kesunyian..
Tak ada yang tersisa lagi untukku
selain kenangan indah bersamamu
Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
Mata indah yang dahulu adalah milikku
kini trasa jauh meninggalkanku
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu
Hati,cinta dan rinduku adalah milikmu
Cintamu tak pernah membebaskanku
Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yg lain saat sayap- sayapku tlah patah karnamu
Cintamu akan tetap tinggal bersamaku hingga akhir hayatku dan setelah kematian
Hingga tangan Tuhan akan menyatukan kita lagi
Betapa pun hati tlah terpikat pada sosok terang dalam kegegelapan yang tengah menghidupkan sinar untukku,namun tak dapat menyinari dan menghangatkan prasaanku yang sesungguhnya
Aku tidak pernah bisa menemukan cinta selain cintamu karna mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku
Kau tak kan pernah terganti bagai pecahan logam mengekalkan kesenyuian,kesendirian dan kesedihanku, kini aku tlah kehilanganmu
Kolaborasi :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar